Jakarta, CNBC Indonesia РPerekonomian China memberikan indikasi kenaikan. Hal ini terungkap dari data Indeks Manajer Pembelian (PMI) yang dirilis Caixin/S&P Global China, Senin (1/4/2024).

Dalam rilis terbaru, PMI China mencapai 51,1 pada bulan Maret, menjadi yang terkuat sejak Februari 2023. Angka 50 ke atas berarti ekspansi sementara 50 ke bawah adalah kontraksi.

Angka ini menguatkan survei resmi lainnya mengenai aktivitas manufaktur yang melampaui ekspektasi pasar dan mencapai level terkuatnya dalam 11 bulan. Survei resmi untuk aktivitas non-manufaktur China mencatat angka paling kuat sejak bulan Juni, menambah dorongan pada data ekspor dan penjualan ritel baru-baru ini.

“Secara keseluruhan, sektor manufaktur terus membaik di bulan Maret, dengan peningkatan pasokan dan permintaan, dan permintaan luar negeri meningkat,” kata ekonom senior di Caixin Insight Group, Wang Zhe, kepada CNBC International.

Data ini sendiri memperkuat rilis dari Biro Statistik Nasional China pada Minggu yang menempatkan PMI di level 50,8 pada bulan Maret dari 49,1 pada bulan Februari. Meskipun laju pertumbuhannya tidak terlalu besar, angka ini juga merupakan angka PMI tertinggi sejak bulan Maret tahun lalu, ketika momentum pencabutan pembatasan ketat Covid-19 mulai terhenti.

Sebelumnya, Perdana Menteri (PM) Li Qiang mengumumkan target pertumbuhan ekonomi tahun 2024 sekitar 5% pada awal bulan ini pada pertemuan tahunan parlemen China, Kongres Rakyat Nasional. Para analis mengatakan para pembuat kebijakan perlu mengeluarkan lebih banyak stimulus untuk mencapai target tersebut karena mereka tidak dapat mengandalkan basis statistik yang rendah pada tahun 2022 yang sebanding dengan data pertumbuhan tahun 2023.

Kekhawatiran Masih Ada

Meski data terbaru menunjukan perbaikan, beberapa kekhawatiran masih ada, terutama mengenai harga. Harga produsen di China telah merosot selama lebih dari satu tahun sementara harga konsumen telah menurun dalam empat dari lima bulan terakhir.

“Produsen meningkatkan pembelian dan persediaan bahan baku di tengah optimisme bisnis yang terus membaik. Namun, lapangan kerja tetap mengalami kontraksi dan tingkat harga yang tertekan semakin memburuk,” kata Wang dari Caixin.

“Harga tetap rendah. Penurunan harga bahan mentah mengurangi biaya produksi bagi produsen, sehingga memberikan kelonggaran bagi mereka untuk menurunkan harga di tengah persaingan pasar yang ketat. Baik ukuran biaya input maupun harga output mencapai titik terendah baru sejak Juli 2023,” tambah Wang.

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


Kata Sri Mulyani, Cuma 30% Negara di Dunia Selamat! Ada RI?


(sef/sef)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *