Jakarta, CNBC Indonesia – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang terjadi beberapa hari terakhir berpotensi meningkatkan biaya produksi industri dalam negeri. Menyebabkan harga jual produk barang-barang yang bahan bakunya berasal dari impor akan tinggi.

Ekonom senior yang juga merupakan Menteri Keuangan periode 2014-2016 Bambang Brodjonegoro mengatakan hal tersebut. Menurutnya, permasalahan itu bisa mengganggu daya saing industri dalam negeri, yang saat ini trennya dalam kondisi baik.

Kondisi itu tercermin dari Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur yang terjaga di level ekspansif selama 31 bulan berturut-turut dengan angka terakhir pada Marte 2024 sebesar 54,2 atau naik dari angka indeks pada Februari 2024 sebesar 52,7.

“Dengan adanya penguatan dolar terhadap rupiah, ini akan menyeret biaya produksi dan bahan baku menjadi lebih tinggi. Jadi tantanganya menjaga daya saing,” kata Bambang dalam program Squawk Box CNBC Indonesia, Rabu (03/04/2024)

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan hari ini melemah, meski indeks dolar cenderung melandai. Berdasarkan data Refinitiv pada pukul 09:00 WIB, rupiah dibuka melemah 0,41% ke posisi Rp 15.910/US$ dari penutupan perdagangan kemarin RP 15.895/US$.

Sementara itu, indeks dolar DXY ditutup di posisi 104,816, lebih rendah dibandingkan hari sebelumnya di posisi 105,019. Pada pagi hari ini, indeks dolar terpantau turun tipis 0,05% ke 104,76. Indeks dolar yang sempat menyentuh level 105 merupakan titik tertinggi sejak 8 November 2023.

Akibat kondisi tersebut, Bambang meminta otoritas moneter dan pemerintah untuk waspada dan merespon cepat pelemahan nilai tukar ini. Ia menganggap permasalahan nilai tukar menjadi signifikan karena mayoritas industri di dalam negeri masih banyak mengimpor bahan baku atau barang modal yang transaksinya menggunakan dolar AS.

“Karena baik penguatan dolar terhadap rupiah kemudian juga permintaan input dari Indonesia yang masih tinggi apalagi jangan lupa sektor manufaktur kita sangat tergantung pada input yang sifatnya impor jadi kita malah sangat butuh impor,” tutur Bambang.

Sementara itu, pasokan dolar industri manufaktur tidak setinggi tahun-tahun sebelumnya karena kini tengah terjadi pelemahan permintaan di tingkat global yang tergambar dari terus turunnya surplus neraca perdagangan Indonesia. Hingga kini surplus sudah di bawah US$ 1 miliar, atau tepatnya hanya US$ 870 juta per Februari 2024.

“Karena kita juga ingin sektor manufaktur kita tetap tumbuh, maka yang perlu diwaspadai selain pelemahan permintaan global dan proteksi yang mengikutinya yang kedua adalah penguatan dolar,” ungkap Bambang.

Bambang pun mengaku was-was terhadap keberlanjutan dari angka indeks ekspansi manufaktur ke depan. Sebab, jika permintaan global melambat dan permintaan domestik melemah setelah masa Ramadan dan Idul Fitri atau lebaran yang menjadi faktor musiman berakhir, permintaan terhadap barang-barang industri bisa kembali tertekan.

“Tentunya kita harus was-was mengenai permintaan masa depan, apakah tetap ditopang oleh domestik meski tidak dalam masa seperti sekarang, lebaran dan puasa,” tegasnya.

Kekhawatiran serupa disampaikan oleh Wakil Ketua Komite Tetap Kebijakan Fiskal & Publik Kadin Indonesia, Anggana Bunawan. Menurutnya, untuk memperoleh bahan baku produksi di industri saat ini sudah sangat sulit akibat kebijakan proteksionisme dari negara-negara mitra dagang utama.

Kondisi itu pun ia tekankan telah membuat biaya produksi pokok industri sudah naik sebetulnya. Implikasi langsung dari kenaikan biaya produksi itu adalah memperlambat konsumsi masyarakat yang menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi dalam negeri.

“Karena tidak menutup kemungkinan pelaku usaha melakukan koreksi terhadap harga jual. Nah ini yang sebetulnya akan mengganggu juga bagaimana konsumsi domestik yang selama ini menjadi penopang pertumbuhan ekonomi kita,” tegas Anggana.

Sebelumnya, Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan menganggap tren ekspansi industri manufaktur yang tergambar dari PMI Manufaktur Februari didorong oleh tingkat permintaan dalam negeri dan pembelian barang input untuk memacu aktivitas produksi sebelum hari raya Idul Fitri.

Kepala BKF Febrio Kacaribu bahkan mengatakan, kinerja PMI Manufaktur Indonesia ekspansif itu menjadi yang terbaik dibanding negara-negara tetangga, karena seperti Malaysia, Thailand, dan Vietnam angka indeksnya malah kontraksi, masing-masing 48,4, 49,1, dan 49,9.

“Capaian ini akan terus kami jaga melalui berbagai dukungan kebijakan untuk menjaga stabilitas ekonomi dan antisipasi terhadap risiko global,” tegas Febrio.

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


Sri Mulyani Ungkap Masalah Besar, Banyak yang Gak Sadar!


(arm/mij)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *