Jakarta, CNBC Indonesia – Pemerintah menaikkan harga pembelian pemerintah (HPP) gabah/ beras petani mulai 3 April 2024. Yang ditetapkan lewat Keputusan Kepala Badan Pangan Nasional Republik Indonesia No 167/2024 Tentang Fleksibilitas Harga Pembelian Gabah dan Beras Dalam Rangka Penyelenggaraan Cadangan Beras Pemerintah.

Kenaikan harga ini pun disambut semringah oleh petani. Seperti yang diunggah akun Facebook Petani Padi Indonesia, “Senyum petani kembali merekah. Jangan teriak harga beras mahal lagi ya”.

Ketua Umum Asosiasi Benih dan Teknologi Tani Indonesia (AB2TI) Dwi Andreas mengatakan, kenaikan harga beli petani ini bisa menjaga agar harga gabah di petani tak anjlok dalam.

“Sebab, harga gabah kering panen saat ini sudah turun karena mulai masuk panen raya. Sudah ke bawah Rp6.000, cukup rendah, sekitar Rp5.000-5.700 per kg. Bahkan ada yang Rp4.000 per kg di Sumatra. Di Jawa Timur, harga gabah kering panen yang tadinya sempat ke Rp8.200 sekaraang ke bawah Rp6.000,” katanya kepada CNBC Indonesia, Kamis (4/4/2024).

“Dengan fleksibilitas harga ini, harga bisa dijaga tak jatuh ke bawah Rp6.000. Karena biaya produksi harga gabah kering panen pun sudah sekitar Rp5.966 per kg, sudah Rp6.000 lah itu kan,” tambahnya.

Artinya, imbuh dia, kenaikan harga ini belum menjadikan petani menikmati untung di musim panen.

“Nggak rugi, nggak untung,” kata Dwi Andreas.

Lalu apa alasan pemerintah menaikkan harga beli gabah/ beras? Di tengah harga beras yang masih mahal.

Meski, saat ini, terpantau ada sinyal penurunan harga beras, baik premium maupun medium.

Sebagai perbandingan, Panel Harga Badan Pangan mencatat, harga beras hari ini (Kamis, 4/4/2024), turun Rp20 ke Rp13.980 per kg jenis medium dan jenis premium bertahan di Rp16.180 per kg.

Sepekan lalu, 28 Maret 2024, harga beras medium masih di Rp14.120 per kg dan premium di Rp16.310 per kg.

Harga tersebut adalah rata-rata harian nasional di tingkat pedagang eceran.

Namun, jika dibandingkan harga rata-rata bulanan eceran di tahun 2023, harga saat ini masih di atas harga tertinggi tahun 2023. Di mana, harga beras premium tertinggi mencapai Rp14.990 per kg dan medium di Rp13.210 per kg.

Sementara, harga tertinggi rata-rata bulanan sejak awal 2024 tercatat di Rp16.410 per kg premium dan Rp14.270 per kg medium.

Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi pun menjelaskan, keputusan pemerintah menaikkan harga beli di petani diharapkan bisa menjaga harga gabah di petani tak langsung anjlok dalam. Menyusul dimulainya musim panen raya.

Arief memaparkan hasil Kerangka Sampel Area (KSA) BPS terbaru, yang mengestimasi potensi luas panen padi bulan Maret 2024 dapat mencapai 1,247 juta hektare (ha). Ini setara beras 3,83 juta ton.

Sementara potensi luas panen padi bulan April 2024 ditaksir mencapai 1,587 juta ha atau setara beras 4,90 juta ton. Dan pada Mei 2024, potensi luas panen padi diprediksi mencapai 1,172 juta ha atau setara beras 3,35 juta ton.

“Dengan begitu, total produksi beras dari Maret sampai Mei dapat mencapai 12,08 juta ton. Panennya sudah banyak dan cukup besar, sehingga harga gabah kering panen yang tadinya sempat di atas Rp 8.000 per kg, saat ini sudah mulai menurun,” kata Arief dalam keterangan resmi, dikutip Kamis (4/4/2024).

“Sekarang tantangan bagi kita adalah bagaimana upaya menjaga harga di tingkat petani. Karena sedulur petani kita juga perlu adanya harga pokok produksi ditambah margin yang wajar,” tambahnya.

Tak hanya itu, ujarnya, perlu menjaga pergerakan indeks nilai tukar petani.

“Dalam laporan terbaru, BPS menyampaikan indeks Nilai Tukar Petani (NTP) secara bulanan pada Maret 2024 turun 1,31 persen dibandingkan Februari 2024 menjadi 119,39. Sementara NTP subsektor tanaman pangan (NTPP) Maret 2024 juga mengalami depresiasi 5,01 persen menjadi 114,28,” katanya.

Meski di satu sisi, harus diakui, inflasi beras bulan Maret 2024 juga mulai melemah. Secara bulanan, inflasi beras di Maret 2024 tercatat berada di 2,06 persen dan ini menurun dibandingkan Februari 2024 yang berada di 5,32 persen.

Kenaikan harga beli ini juga untuk mendukung Perum Bulog agar bisa maksimal menyerap hasil panen petani. Sehingga bisa fleksibel dan optimal mengisi cadangan beras pemerintah (CBP).

“Fleksibilitas harga ini diharapkan dapat menjadi jaring pengaman bagi produsen gabah dan beras, sehingga harga tidak terlampau turun jauh pada saat panen raya yang sedang akan berlangsung,” seebutnya.

“Dan agar Bulog dapat meningkatkan stok CBP yang berasal dari produksi dalam negeri. Jadi tidak hanya bersumber dari importasi saja,” ucap Arief.

Di dalam Keputusan Kepala Bapanas RI No 167/2024, fleksibilitas HPP gabah dan beras yang diterapkan bagi Bulog adalah:

– Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani yang sebelumnya Rp5.000 per kilogram (kg) naik jadi Rp6.000 per kg

– Gabah Kering Giling (GKG) di gudang Bulog yang sebelumnya Rp6.300 per kg naik jadi Rp7.400 per kg

– Harga beras di gudang Bulog dengan derajat sosoh minimal 95 persen, kadar air 14 persen, butir patah maksimal 20 persen, dan butir menir maksimal 2 persen yang sebelumnya Rp9.950 per kg naik jadi Rp 11.000 per kg.

Artinya ada kenaikan sekitar Rp1.000 lebih dibandingkan HPP yang ditetapkan dalam Peraturan Badan Pangan Nasional (Perbadan) No 6/2023 Tentang Harga Pembelian Pemerintah dan Rafaksi Harga Gabah dan Beras.

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


Defisit Beras Jutaan Ton Intai RI Saat Harga Masih Mahal, Ini Sebabnya


(dce/dce)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *